Penelusuran Pantai Selatan Jawa Barat

Laporan oleh: Lydia Okva Anjelia
[Unpad.ac.id, 17/02/2011] Indonesia memiliki potensi pariwisata yang kaya akan keindahan alamnya, baik itu laut, pergunungan, cagar alam, sampai dengan cagar budaya.  Provinsi Jawa Barat sendiri, ternyata memiliki potensi wisata yang tak kalah dengan daerah lainnya. Namun, apakah potensi wisata yang luar biasa indahnya tersebut telah tergarap secara optimal? Kami mencoba menemukan jawabannya dengan cara menelusuri potensi wisata pantai selatan Jawa Barat, Senin (14/02) lalu dimulai dari Pantai Pangandaran di kabupaten Ciamis, sampai ke Pantai Rancabuaya yang berada di poros tengah selatan kabupaten Garut.

Pemandangan pantai Pangandaran yang indah menjadi daya tarik wisatawan lokal dan mancanegara
Pemandangan pantai Pangandaran yang indah menjadi daya tarik wisatawan lokal dan mancanegara

Penelusuran dimulai dari Pantai Pangandaran, objek wisata yang telah menjadi primadona pariwisata Jabar ini terletak di Desa Pananjung, Kec. Pangandaran yang berjarak sekitar 92 km arah selatan kota Ciamis. Benar saja, pantai ini memiliki berbagai keistimewaan seperti dapat melihat terbit dan tenggelamnya matahari dari satu tempat  yang sama, pantai yang landai dengan air yang jernih dengan pasir yang putih dan memiliki berbagai fasilitas yang dapat digunakan para wisatawan.

Namun, ada pula yang cukup disayangkan terkait kondisi pantai, terutama banyaknya sampah yang menumpuk di sisi jalan. Rektor Unpad, Prof. Ganjar Kurnia, turut prihatin atas kondisi sampah yang dibiarkan berserakan di pinggir jalan. Seperti yang dilihatnya di pantai barat Pangandaran.

“Sangat disayangkan banyak sampah menumpuk di pinggir jalan. Tidak ada penanganan langsung yang dilakukan,” tuturnya.

Salah seorang pedagang, Deni (28), yang biasa mengitari pantai Pangandaran mengakui, tumpukan sampah di jalan adalah akibat fasilitas tempat sampai yang kurang memadai. Selain sampah yang dihasilkan para pengunjung, sampah terbesar juga dihasilkan para pedagang.

Pengelolaan daerah wisata yang belum optimal seringkali membuat tumpukan sampah menjadi pemandangan biasa di Pangandaran

“Tempat sampah ada, tapi kurang. Banyak sampah yang dibuang tapi melebihi kapasitas tempatnya. Jadi banyak sampah yang menggunung walaupun sudah ditaruh ditempatnya,” kata Deni yang seorang pedagang es kelapa muda. Bahkan, menurutnya, ada beberapa rumah makan yang membuang limbah langsung ke laut. Tak sedikit juga pedagang sepertinya yang kemudian meninggalkan begitu saja sampah berupa batok kelapa di pinggir jalan.

Perjalanan kemudian dilanjutkan dengan tujuan utama Pantai Ranca Buaya yang terletak di Kab. Garut. Rute yang dilalui diantaranya adalah Kec. Cimerak dan Cijulang (Kab. Ciamis), Kec. Cikalong dan Cipatujah (Kab.Tasikmalaya), dan  Kec. Pameungpeuk (Kab. Garut Selatan). Perjalanan dilewati di atas jalan pedesaan yang ber-aspal. Namun banyak dilihat kerusakan jalan akibat dari truk-truk besar pengangkut pasir. Di sejumlah tempat, terlihat pembangunan yang menggunakan alat-alat berat.

Di sepanjang rute selatan pulau Jawa ini lah kita akan mendapatkan pemandangan laut yang langsung terhubung dengan Samudera Indonesia. Sebut saja pantai Keusik Luhur, pantai Karang Tawulan, pantai Sayang Heulang merupakan objek wisata yang dapat ditemui di sepanjang rute ini.

Perpaduan antara alam pegunungan dengan panorama pantai dapat langsung disaksikan. Bergeloranya Samudera Indonesia ini juga dapat dilihat melalui gelombang laut yang terus menerus menghempas karang, menyemburkan buih-buih air laut. Penduduk setempat juga diuntungkan dengan rute wisata di pantai selatan, Jabar ini dimana mereka banyak pula yang kemudian membuka toko atau sekedar menjual bensin eceran di pinggir jalan.

Akhirnya kami tiba di Pantai Ranca Buaya dengan waktu tempuh 8 jam perjalanan dengan jarak lebih dari 150 km. Seperti yang dikutip dalam situs resmi pariwisata Kab. Garut, Pantai Ranca Buaya yang terletak di Desa Caringin, Kab. Garut ini memiliki ketinggian 0-200 m di atas permukaan laut.

Pantai Ranca Buaya

Menurut pengamatan langsung, perairan di pantai Ranca Buaya ini memiliki gelombang yang cukup tinggi. Material yang dapat langsung kita lihat adalah pasir halus, pasir kasar bahkan batu karang di sepanjang garis pantai. Perahu-perahu nelayan pun dapat terlihat di sisi pantai, dimana melaut menjadi salah satu mata pencaharian di Desa ini.

Warga setempat, Rohmat Hidayat (40) mengatakan bahwa flora laut di pantai ini dahulu didominasi dengan rumput laut dan ganggang hijau. Namun ia mengakui saat ini sulit sekali menemukan rumput laut dan ganggang hijau. Rohmat yang dulu sempat menjadi nelayan ini tidak mengetahui mengapa hal tersebut bisa terjadi. Menurutnya, hal tersebut mungkin dikarenakan eksplorasi yang dilakukan secara terus menerus.

“Selain rumput laut, sudah kurang juga jumlah ikannya. Saya ngga tau kenapa. Bisa jadi karena cuaca atau memang sudah habis diambil,” katanya.

Dalam kurun waktu 5-6 tahun terakhir, tambah Rohmat. Banyak kemudian dibangun sejumlah hotel dan vila di kawasan ini. Pria yang mengaku telah menetap di desa ini sejak tahun 1980 ini mengatakan memang cukup diuntungkan dengan banyaknya wisatawan yang datang, terutama di akhir pekan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s