Belitung dan Legenda Bali Terpotong

tanjungtinggi
Dua orang sedang berjalan dan menikmati keindahan Pantai Tanjung Tinggi. (Foto: Lydia Okva Anjelia)

Kompas, 8 November 2010, Setiap kali menyebut nama Belitung tidak sedikit orang selalu bertanya, mana yang benar Belitung atau Belitong? Reaksi yang sama juga ketika disebut Belitong, Sikap ini wajar sebab selama ini kedua nama itu yang selalu terucapkan orang baik yang selalu terucapkan orang, baik yang tinggal di pulau itu maupun yang hidup di pulau lainnya sehingga membingungkan banyak pihak.

Ada sejumlah versi penjelasan tentang pulau seluas 480.010 hektar atau 4.800 kilometer persegi itu. Namun, menurut Bupati Belitung Darmansyah Husein, Belitung hanya dipakai untuk menyebutkan nama wilayah administratif. Misalnya, Kecamatan Belitung, Kabupaten Belitung, atau Kabupaten Belitung Timur, atau Provinsi Bangka Belitung. Sebaliknya, Belitong khusus nama pulau atau kawasan, “Kalau menyebut Belitong berarti untuk seluruh wilayah pulau ini. Artinya, Belitung adalah bagian dari Belitong,” kata Darmansyah.

Belitong juga dianonimkan dengan dengan Bali terpotong. Konon pada ribuan tahun silam daratan itu terletak di semenanjung Pulau Bali. Namun wilayah tersebut kemudian terpotong dan hanyut terbawa arus gelombang arus gelombang besar menuju arah utara, membentuk pulau di wilayah timur Sumatera, “itu sebabnya dahulu orang menyebutkan dengan Belitong atau Bali yang terpotong,” kata Bupati Belitung Timur Basuri Purnama. Legenda itu menyebutkan bahwa pada ribuan tahun silam hidup seorang raja yang adil dan bijaksana di Pulau Bali. Dia sangat disegani, dihormati, dikagumi, dan disenangi rakyatnya. Raja yang karismatis ini hanya memiliki seorang putri nan cantik jelita.

Cantik
Kecantikan sang putri itu membuat para putra mahkota dari kerajaan tetangga tergila-gila, dan satu demi satu satu datang melamarnya. Akan tetapi semua, semua lamaran itu tersebut selalu ditolaknya. Dia bergeming terhadap secuil pun kekayaan, kemewahan, ketampanan dan pesona yang dimiliki para putra mahkota itu.

Sikap sang putri tersebut membuat kedua orang tua terheran-heran. Raja dan Permaisuri ini terus bertanya: mengapa putri mereka tidak sedikit pun lamaran dari para putra mahkota tersebut? apa yang kurang dari para pangeran muda itu sehingga putri tunggal mereka tidak mau membukakan pintu hatinya sedikit pun?

Hari-hari selanjutnya rasa penasaran sang raja terus menggumpal. Dia kemudian mencoba menanyakan kepada permaisuri, tapi tidak diperoleh jawaban. Namun, permaisuri meyakini ada sesuatu hal yang disembunyikan putri kesayangan mereka. Rajapun menugaskan istrinya untuk mencoba mencari tahu penyebabnya.

Setelah dilakukan pembicaraan dari hati ke hati, sang putri akhirnya mengabarkan kepada ibunya bahwa dirinya sebetulnya sedang menderita penyakit kelamin. Itu sebabnya dia memilih untuk menolak semua lamaran dari para pangeran. Mendengar kabar itu, raja bagai tersambar petir. Dia kemudian meminta bantuan kalangan ahli pengobatan. Bagi siapa yang mampu menyembuhkan penyakit putri tunggalnya, yang bersangkutan diizinkan mempersunting gadis jelita tersebut. Namun, sayembara itu gagal karena tak satu pun ahli pengobatan yang sanggup.

Demi mencegah penyebaran virus penyakit tersebut, raja dan permaisuri memilih mengasingkan putri mereka ke sebuah hutan di semenanjung yang terletak di utara Pulau Bali. Para hulubalang langsung dikerahkan untuk membangun pondok khusus untuk tempat tinggal sang putri di lokasi pengasingan. Setelah semua persiapan tuntas, sang putri pun diantar ke semenanjung Bali. Di sana, dia tinggal seorang diri dan hanya di temani seekor anjing kesayangannya bernama Tumung. Sang putri menerima pilihan ini demi keselamatan warga di kerajaan itu.
Kutukan raja
Konon saking dekatnya dengan Tumung, sang putri pun membiarkan anjing kesayangannya tersebut menjilati sumber penyakitnya . Bahkan, semakin sering dijilat, penyakit yang diderita juga akhirnya sembuh. Fakta tersebut membuat hubungan antara sang putri dan Tumung pun bertambah dekat. Bahkan keduanya pun sering melakukan kontak fisik dan akhirnya hamil. Konon, putri raja itu akhirnya melahirkan seorang anak laki-laki yang berekor.

Berita itu disampaikan para hulubalang kepada raja. Mula-mula raja sangat senang karena putri kesayangannya sudah terbebas dari penyakit. Namun, amarah dia meledak ketika mengetahui putrinya hamil dari hasil hubungannya dengan Tumung. Perbuatan itu di nilai melecehkan martabat raja dan kerajaan. Raja pun langsung bersumpah dan mengutuk perbuatan putrinya. Beberapa hari berikutnya terjadi angin kencang, gelombang pasang, dan tanah di semenanjung itu pun bergetar. Tidak lama kemudian, daratan semenanjung tersebut terpotong atau terputus dari Pulau Bali, bahkan langsung dibawa arus besar menuju ke arah utara.

Saat itu, di sebelah timur Sumatera, ada dua nelayan sedang melaut menggunakan perahu tradisional. Tiba-tiba terlihat sebuah gundukan tanah yang sangat besar disertai pohon-pohon yang besar terhanyut dan melintas di depan mereka. Kedua nelayan itu pun akhirnya mendekati gundukan tersebut, dan melemparkan jangkar pada salah satu bagiannya.

Beberapa saat kemudian, gundukan raksasa itupun berhenti dan menancap di perairan itu. Sejak itu pula lokasi tersebut menjadi satu pulau sendiri. Warga setempat kemudian memberikan nama Belitong atau Bali terpotong. “Saya tidak tahu persis hubungan antara legenda itu dan kehadiran pengaruh Kerajaan Mataram di Pulau Belitong, tetapi fakta ini bisa saja memiliki korelasi,” kata budayawan Belitong, Ian Sancin. (JAN)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s