Kisah Nyata tentang Kesendirian: Pria Paruh Baya Koma Cari Keluarga

selasar rumah sakitBandung, 21 Februari 2013

Siang itu saya berjalan di lorong rumah sakit. Lorong yang panjang dengan beragam manusia. Saya lihat manusia-manusia berseliweran kesana kemari ke berbagai arah. Saling berpapasan silih berganti dengan wajah yang punya arti beragam. Wajah penuh dengan pengharapan, beragam pikiran, beragam tujuan.

Saya terus memandang kedepan. Terus berjalan menuju sebuah ruangan yang memang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Sesampainya di tujuan, saya memandang dengan penuh rasa penasaran. Tertulis ‘Jika Tidak Berkentingan, Dilarang Masuk’ Saya terus meneruskan langkah. Dihadapan saya, ada sebuah pintu dengan nama ruang NCCU. Saya buka pintunya dan seorang perawat memandang ke arah saya “Oh, silakan masuk. Buka sepatunya, ini sendal dan baju khususnya dipakai” ujar petugas di NCCU.

Saya kemudian mengenakan sandal karet dan baju khusus untuk masuk ke ruangan yang tidak terlalu luas, tapi juga tidak terlalu sempit ini. Ada sekitar 5 buah tempat tidur khusus dengan peralatan medis yang lengkap. Ruangan ini sebetulnya begitu sunyi senyap. Tapi kesunyian itu pecah dengan suara alat medis yang berbunyi bersahutan.

Ada dua pasien di ruangan ini. Dan, yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, saya sekarang berada di ruangan dengan makhluk-makhluk yang sama seperti saya. Makhluk ciptaan Allah SWT. Yang berbeda adalah saya sehat. Sementara mereka sedang berada diambang batas. Batas antara kehidupan dan kematian. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi dialam bawah sadar mereka. Tapi yang saya lihat dari sini, mereka sedang berjuang.

“Ini pasiennya” kata perawat laki-laki mengarahkan saya kepada pasien di sebuah tempat tidur yang penuh dengan alat bantu. “Sudah 4 hari belum ada satupun keluarga yang datang. Kami hanya mendapatkan surat keterangan dari kepolisian. Disini disebutkan bernama Bapak Mastika, usia 76 Tahun. Alamat lengkapnya tertulis disini. Tapi belum ada juga keluarga yang datang,” kata perawat memperlihatkan kepada saya selembar surat keterangan dari kepolisian.

Dalam surat itu dituliskan bahwa pria paruh baya ini mengalami kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Ditemukan warga di sekitar jalan gardujati, Kota Bandung. Sempat dibawa ke rumah sakit terdekat,  kemudian dirujuk ke rumah sakit ini. Rumah sakit tempat saya bekerja. “Sepertinya korban tabrak lari. Sejak malam, kondisinya terus menurun. Tolong dibantu diinformasikan, barangkali ada yang kehilangan anggota keluarganya,” ujar perawat itu.

Saya memandang ke arah pria paruh baya itu. Rambutnya tipis, putih beruban dengan kerutan-kerutan di wajah tuanya. “Hmm kulit putih atau sawo matang ya pak” tanya saya pada perawat. Saya sampai tidak bisa membedakan apakah wajahnya sawo matang atau putih. Kulitnya pucat, hampir putih. “Hmm, kulit sawo matang.  Perawakan sedang,” catatku yakin. Melihat pria ini dengan mulut yang terpasang oksigen dan alat bantu pemacu jantung, saya begitu khawatir. Tapi kekhawatiranku cukup dapat diredam. Alat pendeteksi kehidupan itu masih berbunyi stabil dan di layar saya bisa melihat grafik yang naik turun. Sesaat, saya membayangkan. Kondisi seperti ini biasa saya lihat di film-film. Bunyi nyaring yang memekakan telinga, tanda dari hilangnya kehidupan. “Ah, saya sudah mengada-ngada. Masih ada harapan. Masih ada harapan,” kata saya dalam hati.

“Oh iya, satu lagi. Saya temukan ada cincin di jarinya,” kata perawat itu. Perawat senior itu kemudian menarik sedikit linen (kain) yang menutup sebagian tubuh tak berdaya itu. Ia angkat tangan kirinya. Ia tarik cincin di jari manisnya. “Cincin ini, bertuliskan Yosef & Mastika,” katanya lagi.

Pria Paruh Baya Koma Cari Keluarga DetikNews Bandung – Seorang pria baruh baya saat ini tengah terbaring koma di ruang NCCU. Pria yang yang diduga menjadi korban lakalantas itu dirawat sejak Senin (18/2/2013). Namun hingga saat ini tak ada satu orang keluarga atau kerabat yang menemani bahkan datang. Dituturkan Kepala Humas, pasien tersebut dirujuk pada Senin (18/2/2013). “Menurut keterangan yang kami peroleh, pasien tersebut dibawa polisi ke RS terdekat pada Minggu (17/2/2013). Diduga sebagai korban laka lantas di Jalan Asia Afrika,” ujarnya saat dihubungi detikbandung via telepon, Kamis (21/2/2013). Sehari mendapat perawatan di RS terdekat tempat kejadian, pasien pun dirujuk untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. “Saat masuk ke RS, kondisinya sudah koma. Ada pendarahan di otaknya,” tuturnya. Berdasarkan data dari polisi yang diterima, pria tersebut bernama Mastika dan beralamat di Jalan **** Bandung. “Tapi pada cincin yang dipakainya tertulis nama Yosef dan Mastika,” katanya. Selama koma di ruang NCCU, pasien diberikan perawatan seperti oksigen dan alat bantu hidup lainnya. RS berharap pihak keluarga dapat datang karena melihat kondisi pasien yang kritis. Ciri pasien yaitu perawakan tinggi kurus, rambut pendek beruban, kulit sawo matang, memakai cincin dengan ukiran Yosef dan Mastika. “Kami mencari dan berharap kalau ada keluarga atau kerabat korban dapat segera datang karena kondisi pasien terus menurun,” jelasnya. (*)

          Pandangan saya tak lepas dari layar komputer di meja kerja saya. Jari-jari saya terus membuka halaman demi halaman web dan memantau sejauh mana saya menyebarkan berita ini. Bagi saya, keluarga adalah segalanya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jika rasanya hidup tanpa keluarga. “Keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah segalanya”, ucap saya terus-terusan dalam hati. Saya terus membayangkan ada sebuah keluarga diluar sana yang sedang tidak mengetahui, bahwa suaminya, ayahnya, atau kakeknya terbaring tak berdaya disini. Terbaring dengan alat bantu hidup, berjuang, sendirian, tanpa satupun keluarga disampingnya. “Buat saya, keluarga adalah segalanya”.

Suara telepon pribadi atasan saya di kantor dalam beberapa waktu tak berhenti berbunyi. “Bu, bisa disampaikan kembali secara Live, beberapa saat lagi,” telepon dari sejumlah radio berita kemudian terus datang silih berganti. Atasanku terus memberi penjelasan kepada sejumlah media. Berharap, ada keluarga yang mendengar.

Menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu. Walaupun ini bukan tugas utama saya di kantor, adakah yang bisa saya lakukan untuk pria ini. Saya ingin sekali berbuat lebih. “Dimana keluarganya? Bukankah alamatnya tertulis jelas di KTP? Hey, kemana polisi ? Bukankah ini tugas mereka. Alamatnya jelas tertera. Tapi kenapa polisi belum juga menemukan keluarganya? Kemana mereka?,” tanya saya terus-terusan di dalam hati. Belum lagi keanehan sebuah cincin yang saya lihat. Yosef dan Mastika. Apakah nama aslinya adalah Yosef? Lalu kenapa di KTP tertulis nama Mastika. Ah, saya sudah berpikir terlalu jauh. Tapi hanya sebatas itu yang bisa saya lakukan. Hari pun berlalu. Saya pulang, masih penuh dengan kekhawatiran. Hanya bisa berdoa, semoga kakek itu cepat sadarkan diri.

Hari pun telah berlalu. Hari ini, hari jumat. Semalam saya masih terus mengingat sosok kakek yang terbaring dengan selang-selang ditubuhnya. Apakah hari ini ia sudah siuman? Apakah hari ini ia sudah melewati masa kritisnya? Apakah hari ini sudah ada keluarganya yang datang? Tanya saya dalam hati.

Disela-sela tugas pokok saya di kantor, saya mencoba bertanya ke ruang  NCCU melalui telepon. “Bagaimana pak sekarang kondisinya.” Tanya saya pada perawat di telepon. “Sudah meninggal dunia, tadi pukul tujuh pagi. Sampai terakhir, belum ada keluarga yang datang. Sekarang sudah berada di kamar jenazah,” jelasnya. Saya menutup telepon. Menghela nafas panjang. Apalagi yang bisa saya lakukan. Kemana harus saya cari keluarganya. Saya kemudian melanjutkan pekerjaan.

Siang menjelang, seperti biasa saya bertemu rekan kerja saya yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat. Waktunya jam makan siang. Kami bertemu di tempat makan favorit kami yang tidak jauh dari rumah sakit. “Tumben, nampak tidak berselera” tanya rekanku. “Iya” jawabku singkat. “Sepertinya saya tidak bisa berlama-lama, saya ingin mengunjungi suatu tempat siang ini,” jelasku. Seusai makan siang, saya kemudian pergi ke suatu tempat. Saya sudah mengantongi sebuah alamat . Alamat yang tertera di surat keterangan dari kepolisian yang pernah saya baca. Siang itu juga saya menuju kesana.

Tadinya saya kira, saya akan menemukan sebuah rumah keluarga yang mungkin saja tidak berpenghuni. Ternyata alamat yang saya kantongi itu bukanlah sebuah rumah yang tadinya saya pikirkan. Tetapi sebuah yayasan yang saya sendiri sebenarnya sering melewatinya karena berada di pusat kota dan jalan besar.

Sebelum masuk, saya bertanya kepada seorang tukang parkir. “Pak, ini yayasan apa ya? Apa ada pengurusnya didalam?” tanya saya karena melihat keadaannya yang sangat sepi “Oh saya juga tidak tahu. Coba masuk aja. Biasanya ada orang” katanya. Saya kemudian masuk dengan perasaan was-was. Saya ketuk pintunya yang besar seperti pintu gereja. Seorang kakek membukakan saya pintu dan meminta saya untuk masuk. Saya duduk di salah satu bangku diantara jejeran bangku yang ada didalam ruang tamu. Kemudian, saya memperkenalkan diri dan menjelaskan kedatangan saya.

Satu minggu sebelumnya, tepatnya Minggu, 17 Februari 2013, [Tok tok tok] Pintu berbunyi tepat pukul 12.00 malam. Dua orang pria berpakaian polisi datang membawa kabar. “Betul pria yang bernama Mastika tinggal disini?” kata polisi itu. “Dulu ia anggota yayasan ini. Tapi sudah bertahun-tahun tidak ada kabar. Kami tidak pernah melihatnya lagi,” jelas kakek yang tinggal di yayasan tersebut. Polisi pun memberi kabar bahwa korban mengalami kecelakaan lalu lintas, ditemukan di jalan, dan dilarikan ke rumah sakit.

“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?,” tanya sang kakek kepada saya seusai bercerita tentang kedatangan polisi minggu malam sesaat setelah kejadian. Saya menjawab, “Sudah meninggal tadi pagi. Sampai saat ini masih berada di kamar jenazah rumah sakit. Dimana keluarganya?” tanya saya berharap mendapatkan informasi.

“Saya sendiri sudah lama tidak tahu keberadaannya, apalagi keluarganya,” cerita sang kakek. Ketika itu, saya baru mengerti, kenapa polisi tidak juga mendapatkan informasi mengenai keluarganya. Ternyata, kakek 76 tahun itu seorang tuna wisma. Tidak ada satupun yang mengetahui dimana ia tinggal, dimana keluarganya. Ia hidup sendirian.

“Memang beberapa kali teman kita ada yang pernah bertemu. Mohon maaf, dia memang cukup terganggu jiwanya. Dahulu dia anggota yayasan sini. Beberapa kali ia pernah pamit bertemu dengan keluarganya di Salatiga, Jawa Tengah. Tapi tidak satupun dari kami yang tahu keluarganya. Kabarnya, ia dibuang keluarga. Saya tidak tahu pasti. Tapi dalam beberapa tahun ini, dia stress,” jelas sang kakek yang juga tidak dapat berbuat apa-apa. Setelah mendengar penjelasannya, saya kemudian pamit. Kemudian sang kakek akan mengusahakan, supaya yayasan dapat membantu proses pemakamannya.

Akhirnya, usaha saya berhenti sampai disini. Saya kemudian kembali ke rumah sakit. Saya berpikir, saya melakukan ini hanya untuk menghilangkan rasa penasaran saya. Sekarang saya tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Pria yang kemarin saya lihat terbaring kritis tak berdaya itu, nyatanya sendirian. Hidupnya banyak ia habiskan sendirian di jalan. Bahkan sampai akhir hayatnya, ia tetap sendirian.

Sesampainya di rumah sakit, saya berjalan di lorong yang sama. Lorong-lorong penuh pengharapan. Silih berganti saya memandang wajah-wajah yang berbeda. Wajah orang-orang yang menahan kesakitan, wajah keluarga yang penuh kecemasan, juga wajah sukacita atas kesembuhan.

Tidak hanya itu, saya juga melihat, ada yang ditemani begitu banyak keluarga. Berbondong-bondong datang, membawa tikar, duduk diselasar menunggu kesembuhan keluarga terdekatnya. Tapi di tempat yang dingin itu [sambil memandang ke arah kamar jenazah] ada juga yang sedang terbaring sendirian (*)

Lydia Okva Anjelia
*Nama, tokoh, dan kejadian berdasarkan kisah nyata

Iklan