Cinta Sekedarnya

Bandung, 26 Januari 2014

Jangan terlalu menyayangi seseorang.. jangan terlalu mencintai seseorang… karena sesuatu yang “terlalu” atau yang “berlebihan” itu akan membuat kita jatuh ketika kita kehilangan, juga ketika apa yang diharapkan ternyata tidak sesuai kenyataan. Saya sendiri sudah pernah jatuh. Bukan hanya pernah, tapi sering. Berkali-kali jatuh. Jatuh karena terlalu menyayangi, terlalu mencintai. Bahkan mungkin melebihi sayang dan cinta kepada zat yang lebih tinggi, yang seharusnya lebih pantas dicintai. Belum terlambat, tapi sudah waktunya instropeksi diri.

Saya pernah, begitu mencintai seseorang. Terlalu cinta, yang membuat saya hampir putus asa ketika dia perlahan-lahan pergi. Pergi menjauh dan menghilang dengan alasan tidak mampu membuat saya bahagia. Dia bilang, dia tidak bisa membuat saya bahagia. Ya, alasannya hanya itu. Mungkin ada orang di luar sana yang bisa membuat saya lebih bahagia. Klasik, tapi cukup membuat saya kemudian terpuruk. Menyalahkan diri sendiri yang tidak bisa menjaga hubungan dengan baik, sampai membuat orang lain merasa kalau mereka tidak bisa membuat saya bahagia. Ya, saya tau kalau bahagia datangnya bukan dari orang lain. Bahagia datang dari sendiri. Bersyukur? Ya itu dia. Mungkin saya tidak cukup bersyukur dengan apa yang saya miliki. Saya jatuh. Jatuh akibat batu yang saya lempar sendiri. Saya jatuh dengan luka yang cukup perih. Menangis seperti anak kecil yang jatuh akibat terlalu bersemangat berlari.

Ketika saya berdiri dengan penuh luka, saya memegang seseorang yang sedang berjalan. Dia cukup baik karena mau membawa saya ikut berjalan walau harus terseret karena saya tidak bisa berjalan dengan baik. Dia cukup baik, karena membiarkan saya untuk bisa memegang dan mengikutinya berjalan. Namun hanya beberapa langkah, dia bilang, dia tidak lagi membawa saya ikut serta untuk berjalan. Saya mengulanginya lagi. Bagaikan mengenggam pasir erat-erat sampai semua butirannya keluar semua dari genggaman. Habis tak sersisa. Dia melepas saya secara tiba-tiba. Saya jatuh lagi di hamparan pasir nan luas. Belum sembuh luka akibat jatuh sebelumnya, rasa perih itu muncul lagi.  Saya sudah sangat lelah. Sepertinya, cukup untuk berjalan. Saya terduduk lagi. Tidak ingin berdiri, walau masih sangat mampu berdiri.

Saya selalu mengira kalau saya sepertinya tidak bisa bangkit lagi ketika saya jatuh untuk kesekian kalinya. Kenyataannya saya kuat, malah sangat kuat untuk bisa berdiri lagi. Saya selalu kuat untuk berdiri lagi. Ketika saya sudah mampu berdiri sendiri lagi, dia kemudian datang. Datang dengan memberi sedikit sentuhan pada luka yang tidak juga sembuh. Dia hanya menyentuhnya sedikit, memberi sedikit obat antiseptik dan menutupinya dengan perban agar sakitnya berkurang. Lalu mengajak saya untuk sama-sama berjalan tanpa saya harus memegang tangannya kuat-kuat untuk bisa berjalan dengan baik. Saya bisa berjalan sendiri disampingnya walau dengan luka yang masih terasa sakit. Dia mengajari saya untuk tidak terlalu menggantungkan harapan padanya ketika sedang berjalan. Dia juga meminta saya untuk kemudian bisa mencintai sekedarnya. Ya, cinta sekedarnya. Dengan cinta sekedarnya, sudah lebih dari cukup untuk bisa terus berjalan… berjalan dengannya.. ***

sand beach
like a shadow, i’ll follow you (Photo by: Lydia Okva Anjelia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s