Meninjau Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Provinsi Kalimantan Timur

Setelah sekian lama tidak menulis blog, saya akan memulai menulis dengan cerita perjalanan dinas saya beberapa waktu lalu ke Provinsi Kalimantan Timur. Beberapa lokasi saya kunjungi bersama Tim kunjungan kerja DPR RI Komisi IX dan Tim dari Kementerian Kesehatan, salah satunya meninjau bagaimana pelayanan kesehatan di Provinsi Kalimantan Timur.

Tiba di Bandara Sepinggan, Balikpapan

 

Tiba di Bandara Sepinggan Balikpapan, kami disambut cuaca yang kurang baik. Belum masuk ke Pulau Kalimantan, pesawat mengalami turbulensi dalam beberapa detik. Alhamdulillah pesawat segera stabil dan dengan lancar melanjutkan penerbangan. Beruntung, pesawat kami tetap bisa mendarat di Balikpapan (Menurut informasi, karena keadaan cuaca, pesawat dari Surabaya terpaksa mendarat di Makassar).
Tiba pukul 10.00 WITA, kami disambut jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Timur. Rombongan kemudian bertolak ke Kota Samarinda dengan waktu tempuh sekitar 3 jam. Iring-iringan kendaraan memecah lalulintas Kota Balikpapan yang kebetulan, di beberapa lokasi saat itu juga terjadi banjir.

Tiba di Kota Samarinda, kami langsung mengunjungi Kantor Gubernur Provinsi Kaltim. Sejumlah perangkat daerah hadir dan menerima rombongan. Sayangnya, diskusi tidak dapat berlangsung lama, karena rombongan harus melanjutkan perjalanan untuk meninjau Kantor BPJS Ketenagakerjaan dan Balai Keselamatan Kerja.

Mari kita lihat seperti apa Fasilitas Pelayanan Kesehatan di Provinsi Kaltim…

Hari kedua, kami dijadwalkan mengunjungi Rumah Sakit A. Wahab Sjahranie (RSAWS) dan RS A.M Parikesit (RSAMP) di Tenggarong Kutai Kartanegara. Di RSAWS, kami disambut dengan ramah oleh Direksi dan jajaran pegawai RS yang saat ini telah ditetapkan melalui Kepmenkes sebagai RS Rujukan Nasional. Seperti apa pengembangannya? Dimulai dengan mengunjungi Instalasi Stroke Center yang telah diresmikan Menteri Kesehatan pada Januari 2016 lalu.

Direktur RSAWS menjelaskan pengembangan RSAWS sejak ditetapkan menjadi RS Rujukan Nasional

Stroke Centre dibangun sepenuhnya menggunakan dana APBD. Memiliki kapasitas 23 tempat tidur, 18 tempat tidur non VIP dan 5 VIP. Stroke Centre ini juga dilengkapi dengan fasilitas penunjang untuk pasien pada proses pemulihan pasca stroke antara lain terapi wicara, occupational therapy, fisioterapi, gymnasium, dan kolam renang.  Stroke Centre ini akan memberikan pelayanan secara komprehensif dan berkesinambunhan dengan kolaborasi dokter spesialis dan menjadi pusat layanan pasca stroke yang terlengkap di Kalimantan.

Kolam therapy bagi penderita stroke di Instalasi Stroke Center di RSWAS Samarinda

Saat ini RSAWS sedang mengembangkan radioterapi dan pengembangan pelayanan jantung terpadu. Kedepan akan dibangun gedung 6 lantai yang membutuhkan dana sekitar 185 Milyar. RSAWS juga mengusulkan kepada Kemenkes untuk memenuhi alat-alat seperti PET-SCAN, Kedokteran Nuklir , dll.

Pelayanan kesehatan bagi peserta JKN-KIS di RSWAS juga telah berjalan, walaupun masih terlihat penumpukam antrian di loket pendaftaran. Direktur mengakui penumpukan antrian masih terjadi akibat volume pasien rujukan yang banyak, karena dirujuk bukan hanya dari kota Samarinda dan Balikpapan, tapi dari berbagai daerah di Provinsi Kalimantan. Tentu saja ini menjadi tantangan RS untuk memperbaiki sistem, agar pelayanan akan semakin baik dan cap sebagai RS Rujukan Nasional pantas disematkan bagi RS yang berdiri di atas lahan seluas 82.000 m2.

Antrian Pasien di Loket Pendaftaran BPJS Kesehatan

Kunjungan dilanjutkan dengan melakukan kunjungan ke RS AM Parikesit di Tenggarong Kab. Kutai Kartanegara. Perjalanan ke Kukar ditempuh dalam waktu 45 menit. Jalanan yang naik turun dan berkelok-kelok mewarnai perjalanan kami. Rombongan disuguhi dengan pemandangan dan gambaran terkait kondisi masyarakat Provinsi Kaltim disepanjang perjalanan kami.

Menuju Kab. Kutai Kartanegara

Tiba di RSAMP Rombongan disambut Direktur dr. Martina Yulianti. Gedung baru yang mulai beroperasi Desember 2015 lalu ini memiliki kapasitas 400 tempat tidur. Ruang perawatan terdiri dari 4 ruang VVIP, 32 ruang VIP, 20 ruang kelas I dengan kapasitas 2 TT, 21 ruang kelas II dengan kapasitas 4 TT, 24 ruang kelas III dengan 8 TT.

Tampak depan gedung RSAMP Tenggarong, Kukar
wp-image-1731526994jpg.jpg
Direktur RSAMP menjelaskan rencana pembangunan RSAMP

Sebagai RS Rujukan Regional, RSAMP saat ini juga terus melakukan penguatan-penguatan dalam pengembangan pelayanan. Salah satunya, melalui penguatan sistem informasi. Sistem informasi di RSAMP ini dirasa telah baik dimana sistem ketersediaan Tempat Tidur (TT) telah berjalan dengan data real time. Diharapkan nantinya RSAMP juga dapat menjadi RS jejaring pendidikan bagi RSAWS dan segera melakukan pemenuhan standar akreditasi KARS 2012.

Demikian sedikit cerita perjalanan saya ke Provinsi Kalimantan Timur. Perlu diakui, fasiltas pelayanan kesehatan di Indonesia belum merata dan semumpuni dua rumah sakit yang baru saja saya kunjungi ini. Namun, tentu saja akan selalu menjadi perhatian pemerintah khususnya Kemenkes. Tapi perlu dukungan dan komitmen daerah juga untuk bisa memanfaatkan anggaran yang diberikan untuk pengembangan fasilitas pelayanan kesehatan. Jadi, untuk hasil terbaik, tentu saja kita tidak bisa bekerja sendiri.

Thanks to

Sebelum menutup tulisan ini, terima kasih saya ucapkan untuk pihak-pihak yang membantu lancarnya perjalanan kami selama di Provinsi Kaltim. Pertama, untuk teman-teman KKP Balikpapan. Salam kenal dan Sukses buat semua! Kedua, untuk jajaran Dinas Kesehatan Provinsi Kaltim. Terima kasih bapak/ibu atas penerimaan yang baik. Semoga dapat bertemu kembali dilain waktu.

Terakhir, selamat berpisah Provinsi Kaltim. Lain waktu, kami mungkin kembali.

wp-1478335540920.jpg

Lydia Okva Anjelia
“A civil servant for  Ministry of Health who loves photography, and writing”

 

 

Iklan

Kisah Nyata tentang Kesendirian: Pria Paruh Baya Koma Cari Keluarga

selasar rumah sakitBandung, 21 Februari 2013

Siang itu saya berjalan di lorong rumah sakit. Lorong yang panjang dengan beragam manusia. Saya lihat manusia-manusia berseliweran kesana kemari ke berbagai arah. Saling berpapasan silih berganti dengan wajah yang punya arti beragam. Wajah penuh dengan pengharapan, beragam pikiran, beragam tujuan.

Saya terus memandang kedepan. Terus berjalan menuju sebuah ruangan yang memang belum pernah saya kunjungi sebelumnya. Sesampainya di tujuan, saya memandang dengan penuh rasa penasaran. Tertulis ‘Jika Tidak Berkentingan, Dilarang Masuk’ Saya terus meneruskan langkah. Dihadapan saya, ada sebuah pintu dengan nama ruang NCCU. Saya buka pintunya dan seorang perawat memandang ke arah saya “Oh, silakan masuk. Buka sepatunya, ini sendal dan baju khususnya dipakai” ujar petugas di NCCU.

Saya kemudian mengenakan sandal karet dan baju khusus untuk masuk ke ruangan yang tidak terlalu luas, tapi juga tidak terlalu sempit ini. Ada sekitar 5 buah tempat tidur khusus dengan peralatan medis yang lengkap. Ruangan ini sebetulnya begitu sunyi senyap. Tapi kesunyian itu pecah dengan suara alat medis yang berbunyi bersahutan.

Ada dua pasien di ruangan ini. Dan, yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya, saya sekarang berada di ruangan dengan makhluk-makhluk yang sama seperti saya. Makhluk ciptaan Allah SWT. Yang berbeda adalah saya sehat. Sementara mereka sedang berada diambang batas. Batas antara kehidupan dan kematian. Saya tidak tahu apa yang sedang terjadi dialam bawah sadar mereka. Tapi yang saya lihat dari sini, mereka sedang berjuang.

“Ini pasiennya” kata perawat laki-laki mengarahkan saya kepada pasien di sebuah tempat tidur yang penuh dengan alat bantu. “Sudah 4 hari belum ada satupun keluarga yang datang. Kami hanya mendapatkan surat keterangan dari kepolisian. Disini disebutkan bernama Bapak Mastika, usia 76 Tahun. Alamat lengkapnya tertulis disini. Tapi belum ada juga keluarga yang datang,” kata perawat memperlihatkan kepada saya selembar surat keterangan dari kepolisian.

Dalam surat itu dituliskan bahwa pria paruh baya ini mengalami kecelakaan lalu lintas (lakalantas). Ditemukan warga di sekitar jalan gardujati, Kota Bandung. Sempat dibawa ke rumah sakit terdekat,  kemudian dirujuk ke rumah sakit ini. Rumah sakit tempat saya bekerja. “Sepertinya korban tabrak lari. Sejak malam, kondisinya terus menurun. Tolong dibantu diinformasikan, barangkali ada yang kehilangan anggota keluarganya,” ujar perawat itu.

Saya memandang ke arah pria paruh baya itu. Rambutnya tipis, putih beruban dengan kerutan-kerutan di wajah tuanya. “Hmm kulit putih atau sawo matang ya pak” tanya saya pada perawat. Saya sampai tidak bisa membedakan apakah wajahnya sawo matang atau putih. Kulitnya pucat, hampir putih. “Hmm, kulit sawo matang.  Perawakan sedang,” catatku yakin. Melihat pria ini dengan mulut yang terpasang oksigen dan alat bantu pemacu jantung, saya begitu khawatir. Tapi kekhawatiranku cukup dapat diredam. Alat pendeteksi kehidupan itu masih berbunyi stabil dan di layar saya bisa melihat grafik yang naik turun. Sesaat, saya membayangkan. Kondisi seperti ini biasa saya lihat di film-film. Bunyi nyaring yang memekakan telinga, tanda dari hilangnya kehidupan. “Ah, saya sudah mengada-ngada. Masih ada harapan. Masih ada harapan,” kata saya dalam hati.

“Oh iya, satu lagi. Saya temukan ada cincin di jarinya,” kata perawat itu. Perawat senior itu kemudian menarik sedikit linen (kain) yang menutup sebagian tubuh tak berdaya itu. Ia angkat tangan kirinya. Ia tarik cincin di jari manisnya. “Cincin ini, bertuliskan Yosef & Mastika,” katanya lagi.

Pria Paruh Baya Koma Cari Keluarga DetikNews Bandung – Seorang pria baruh baya saat ini tengah terbaring koma di ruang NCCU. Pria yang yang diduga menjadi korban lakalantas itu dirawat sejak Senin (18/2/2013). Namun hingga saat ini tak ada satu orang keluarga atau kerabat yang menemani bahkan datang. Dituturkan Kepala Humas, pasien tersebut dirujuk pada Senin (18/2/2013). “Menurut keterangan yang kami peroleh, pasien tersebut dibawa polisi ke RS terdekat pada Minggu (17/2/2013). Diduga sebagai korban laka lantas di Jalan Asia Afrika,” ujarnya saat dihubungi detikbandung via telepon, Kamis (21/2/2013). Sehari mendapat perawatan di RS terdekat tempat kejadian, pasien pun dirujuk untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik. “Saat masuk ke RS, kondisinya sudah koma. Ada pendarahan di otaknya,” tuturnya. Berdasarkan data dari polisi yang diterima, pria tersebut bernama Mastika dan beralamat di Jalan **** Bandung. “Tapi pada cincin yang dipakainya tertulis nama Yosef dan Mastika,” katanya. Selama koma di ruang NCCU, pasien diberikan perawatan seperti oksigen dan alat bantu hidup lainnya. RS berharap pihak keluarga dapat datang karena melihat kondisi pasien yang kritis. Ciri pasien yaitu perawakan tinggi kurus, rambut pendek beruban, kulit sawo matang, memakai cincin dengan ukiran Yosef dan Mastika. “Kami mencari dan berharap kalau ada keluarga atau kerabat korban dapat segera datang karena kondisi pasien terus menurun,” jelasnya. (*)

          Pandangan saya tak lepas dari layar komputer di meja kerja saya. Jari-jari saya terus membuka halaman demi halaman web dan memantau sejauh mana saya menyebarkan berita ini. Bagi saya, keluarga adalah segalanya. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana jika rasanya hidup tanpa keluarga. “Keluarga adalah segalanya. Keluarga adalah segalanya”, ucap saya terus-terusan dalam hati. Saya terus membayangkan ada sebuah keluarga diluar sana yang sedang tidak mengetahui, bahwa suaminya, ayahnya, atau kakeknya terbaring tak berdaya disini. Terbaring dengan alat bantu hidup, berjuang, sendirian, tanpa satupun keluarga disampingnya. “Buat saya, keluarga adalah segalanya”.

Suara telepon pribadi atasan saya di kantor dalam beberapa waktu tak berhenti berbunyi. “Bu, bisa disampaikan kembali secara Live, beberapa saat lagi,” telepon dari sejumlah radio berita kemudian terus datang silih berganti. Atasanku terus memberi penjelasan kepada sejumlah media. Berharap, ada keluarga yang mendengar.

Menit demi menit berlalu, jam demi jam berlalu. Walaupun ini bukan tugas utama saya di kantor, adakah yang bisa saya lakukan untuk pria ini. Saya ingin sekali berbuat lebih. “Dimana keluarganya? Bukankah alamatnya tertulis jelas di KTP? Hey, kemana polisi ? Bukankah ini tugas mereka. Alamatnya jelas tertera. Tapi kenapa polisi belum juga menemukan keluarganya? Kemana mereka?,” tanya saya terus-terusan di dalam hati. Belum lagi keanehan sebuah cincin yang saya lihat. Yosef dan Mastika. Apakah nama aslinya adalah Yosef? Lalu kenapa di KTP tertulis nama Mastika. Ah, saya sudah berpikir terlalu jauh. Tapi hanya sebatas itu yang bisa saya lakukan. Hari pun berlalu. Saya pulang, masih penuh dengan kekhawatiran. Hanya bisa berdoa, semoga kakek itu cepat sadarkan diri.

Hari pun telah berlalu. Hari ini, hari jumat. Semalam saya masih terus mengingat sosok kakek yang terbaring dengan selang-selang ditubuhnya. Apakah hari ini ia sudah siuman? Apakah hari ini ia sudah melewati masa kritisnya? Apakah hari ini sudah ada keluarganya yang datang? Tanya saya dalam hati.

Disela-sela tugas pokok saya di kantor, saya mencoba bertanya ke ruang  NCCU melalui telepon. “Bagaimana pak sekarang kondisinya.” Tanya saya pada perawat di telepon. “Sudah meninggal dunia, tadi pukul tujuh pagi. Sampai terakhir, belum ada keluarga yang datang. Sekarang sudah berada di kamar jenazah,” jelasnya. Saya menutup telepon. Menghela nafas panjang. Apalagi yang bisa saya lakukan. Kemana harus saya cari keluarganya. Saya kemudian melanjutkan pekerjaan.

Siang menjelang, seperti biasa saya bertemu rekan kerja saya yang bertugas di Instalasi Gawat Darurat. Waktunya jam makan siang. Kami bertemu di tempat makan favorit kami yang tidak jauh dari rumah sakit. “Tumben, nampak tidak berselera” tanya rekanku. “Iya” jawabku singkat. “Sepertinya saya tidak bisa berlama-lama, saya ingin mengunjungi suatu tempat siang ini,” jelasku. Seusai makan siang, saya kemudian pergi ke suatu tempat. Saya sudah mengantongi sebuah alamat . Alamat yang tertera di surat keterangan dari kepolisian yang pernah saya baca. Siang itu juga saya menuju kesana.

Tadinya saya kira, saya akan menemukan sebuah rumah keluarga yang mungkin saja tidak berpenghuni. Ternyata alamat yang saya kantongi itu bukanlah sebuah rumah yang tadinya saya pikirkan. Tetapi sebuah yayasan yang saya sendiri sebenarnya sering melewatinya karena berada di pusat kota dan jalan besar.

Sebelum masuk, saya bertanya kepada seorang tukang parkir. “Pak, ini yayasan apa ya? Apa ada pengurusnya didalam?” tanya saya karena melihat keadaannya yang sangat sepi “Oh saya juga tidak tahu. Coba masuk aja. Biasanya ada orang” katanya. Saya kemudian masuk dengan perasaan was-was. Saya ketuk pintunya yang besar seperti pintu gereja. Seorang kakek membukakan saya pintu dan meminta saya untuk masuk. Saya duduk di salah satu bangku diantara jejeran bangku yang ada didalam ruang tamu. Kemudian, saya memperkenalkan diri dan menjelaskan kedatangan saya.

Satu minggu sebelumnya, tepatnya Minggu, 17 Februari 2013, [Tok tok tok] Pintu berbunyi tepat pukul 12.00 malam. Dua orang pria berpakaian polisi datang membawa kabar. “Betul pria yang bernama Mastika tinggal disini?” kata polisi itu. “Dulu ia anggota yayasan ini. Tapi sudah bertahun-tahun tidak ada kabar. Kami tidak pernah melihatnya lagi,” jelas kakek yang tinggal di yayasan tersebut. Polisi pun memberi kabar bahwa korban mengalami kecelakaan lalu lintas, ditemukan di jalan, dan dilarikan ke rumah sakit.

“Lalu bagaimana keadaannya sekarang?,” tanya sang kakek kepada saya seusai bercerita tentang kedatangan polisi minggu malam sesaat setelah kejadian. Saya menjawab, “Sudah meninggal tadi pagi. Sampai saat ini masih berada di kamar jenazah rumah sakit. Dimana keluarganya?” tanya saya berharap mendapatkan informasi.

“Saya sendiri sudah lama tidak tahu keberadaannya, apalagi keluarganya,” cerita sang kakek. Ketika itu, saya baru mengerti, kenapa polisi tidak juga mendapatkan informasi mengenai keluarganya. Ternyata, kakek 76 tahun itu seorang tuna wisma. Tidak ada satupun yang mengetahui dimana ia tinggal, dimana keluarganya. Ia hidup sendirian.

“Memang beberapa kali teman kita ada yang pernah bertemu. Mohon maaf, dia memang cukup terganggu jiwanya. Dahulu dia anggota yayasan sini. Beberapa kali ia pernah pamit bertemu dengan keluarganya di Salatiga, Jawa Tengah. Tapi tidak satupun dari kami yang tahu keluarganya. Kabarnya, ia dibuang keluarga. Saya tidak tahu pasti. Tapi dalam beberapa tahun ini, dia stress,” jelas sang kakek yang juga tidak dapat berbuat apa-apa. Setelah mendengar penjelasannya, saya kemudian pamit. Kemudian sang kakek akan mengusahakan, supaya yayasan dapat membantu proses pemakamannya.

Akhirnya, usaha saya berhenti sampai disini. Saya kemudian kembali ke rumah sakit. Saya berpikir, saya melakukan ini hanya untuk menghilangkan rasa penasaran saya. Sekarang saya tidak bisa lagi berbuat apa-apa. Pria yang kemarin saya lihat terbaring kritis tak berdaya itu, nyatanya sendirian. Hidupnya banyak ia habiskan sendirian di jalan. Bahkan sampai akhir hayatnya, ia tetap sendirian.

Sesampainya di rumah sakit, saya berjalan di lorong yang sama. Lorong-lorong penuh pengharapan. Silih berganti saya memandang wajah-wajah yang berbeda. Wajah orang-orang yang menahan kesakitan, wajah keluarga yang penuh kecemasan, juga wajah sukacita atas kesembuhan.

Tidak hanya itu, saya juga melihat, ada yang ditemani begitu banyak keluarga. Berbondong-bondong datang, membawa tikar, duduk diselasar menunggu kesembuhan keluarga terdekatnya. Tapi di tempat yang dingin itu [sambil memandang ke arah kamar jenazah] ada juga yang sedang terbaring sendirian (*)

Lydia Okva Anjelia
*Nama, tokoh, dan kejadian berdasarkan kisah nyata

Surat Cinta Termakan Rayap

Sore ini, ibu Hudajani Sidik cerita kepada saya tentang surat-surat cinta yang ia simpan selama 44 tahun lamanya. Sayang, hari ini harus dibakar karena sudah terkena rayap dan sebagian sudah tidak terbaca. Untungnya beberapa postcard yang bapak kirim saat studi di Belanda (saat menjalani hubungan jarak jauh ketika itu) masih bisa disimpan dalam beberapa album.

Bu, mungkin kisah ini yang belum sempat saya ceritakan di buku biografi bapak kemarin. Someday kalau saya diminta menulis lagi, boleh donk saya baca-baca postcardnya :p Semoga foto yang baru sempat saya upload ini, bisa jadi obat seusai ibu membakar surat-surat cinta itu 🙂