“Rajutan Cinta” Buatan Mama

Ada anggapan bahwa merajut itu identik dengan orang-orang tua. Tapi sekarang banyak sekali anak muda dari anak-anak sampai wanita dewasa yang pintar merajut. Saya sendiri? Jujur, saya tidak bisa merajut. Jadi dalam kamus saya, merajut tetap identik dengan orang tua. Karena pada kenyataannya anak muda seperti saya masih kalah terampil dengan buah tangan mama saya sendiri.

Sebelum saya menjabarkan lebih dalam mengenai resolusi saya di tahun 2012 ini (yang hubungannya dengan rajut merajut), saya ingin sedikit bercerita mengenai asal-usul keterampilan merajut yang mama miliki.

Dari mana Mama Belajar Merajut? Ini yang selalu menjadi pertanyaan saya ketika mendapati mama di umurnya yang hampir 60 Tahun ini sangat terampil merajut. Padahal selama 32 tahun dalam hidupnya, ia menjadi wanita karir yang bekerja setiap hari di belakang meja, menjalankan aktivitasnya sesuai jam kantor, dan hanya mempunyai waktu di malam hari dan weekend bagi anak-anaknya. Lalu, sejak kapan mama bisa merajut? Saya keheranan sendiri. Karena sejak kecil saya tidak pernah melihat mama merajut.

Ditengah kekaguman saya, mama pernah bercerita. Ketika mama masih duduk di Bangku SMP, ibunya atau saya menyebutnya Mak gaek (dalam bahasa Padang; berarti Nenek), selalu menyodorkan sejumlah benang dan hakpen (jarum rajut) setiap mama pulang dari sekolah. Tanpa bisa menolak, mama langsung diperintahkan untuk merajut. Berbeda dengan kakak perempuan mama yang setiap pulang sekolah malah disodorkan peralatan dapur.

Tapi akhirnya saya paham, Ooo begitu rupanya mama memiliki keahlian merajut, tapi tidak untuk keahlian memasak. Makna yang saya dapat, bahwa nenek saya sejak dini telah membekali anak-anaknya dengan kemampuan yang berbeda.

Kemudian, saya juga berpikir. Kok terlambat sih mama menyadari kalau ia masih memiliki kemampuan untuk merajut? Hebatnya, 32 tahun bekerja sebagai wanita kantoran tidak membuat kemampuan mama  hilang begitu saja. Baru pada tahun 2010 lalu, mama mulai berkreasi kembali dengan jari-jarinya. Memang, tidak ada kata terlambat yaa untuk memulai ini semua. Pernah saya mencoba untuk belajar, tapi saya menyerah. Tangan ini tak seterampil mama.

Dari segi jumlah produksi, memang tidak banyak rajutan tangan karya tangan mama yang dihasilkan. Dalam satu minggu, mama hanya bisa menyelesaikan satu atau paling banyak dua rajutan berbentuk cardigan atau baju jenis lainnya, tergantung tingkat kesulitan dan ukurannya. Dua pun bisa dihasilkan jika full-time dalam seminggu aktivitas mama hanya merajut (Beristirahat hanya ketika waktunya makan, shalat, dan tidur). Maka sejak tahun 2010 lalu, saya belum memberanikan diri untuk langsung memasarkan hasil-hasil rajutan mama melalui internet.

Maka resolusi tahun 2012 ini adalah saya ingin membangun dan mengelola sebuah website “Sentra Rajutan Tangan”, Yap, khusus hanya rajutan buatan tangan atau handmade.

Tujuannya adalah untuk bisa mewadahi para ibu atau anak-anak muda yang punya hobi merajut dan ingin menjual hasilnya, tapi tidak mampu memproduksi produknya secara massal. Jadi, siapapun dan dimanapun yang ingin menjual hasil rajutannya dalam jumlah yang kecil (bahkan satuan) bisa menitipkan barangnya untuk bisa dijual di website tersebut.

Mama memang menjadi inspirasi untuk resolusi ini. Proses yang manual dan waktu pengerjaannya yang begitu lama memang menjadikan produk ini begitu istimewa. Terutama dari kerapihan, eksklusifitas, dan keistimewaan bahwa produk tersebut ternyata tidak dapat dihasilkan oleh sembarang orang.

Karena memang tidak mungkin mama bisa menyelesaikan sejumlah pesanan dalam waktu yang bersamaan jika hanya merajut sendirian. Selama ini, saya hanya bisa menunggu selesainya helai demi helai rajutan buatan mama, mulai dari taplak meja, baju, cardigan, syal, rompi, dan masih banyak lagi. Ketika sudah banyak, baru mama menyerahkan semua hasil rajutannya kepada saya, untuk bisa dijual.

Ketika itu, cara terbaik untuk memulai adalah menawarkannya kepada teman-teman dan keluarga. Alhasil, sejumlah baju rajutan tangan mama laku di kalangan keluarga dan teman-teman. Hal tersebut menambah semangat mama untuk merajut dan terus merajut. Bukan karena UANG yang didapat, tapi KEPUASAN HATI ketika rajutan buah tangan mama ini bisa disukai banyak orang. Saya ingin banyak perempuan di Indonesia yang hobi merajut juga punya perasaan yang sama. Kepuasan hati ketika ada orang yang mau mengenakan buah tangan mereka.

Memang saya belum memiliki banyak pengalaman bagaimana memasarkan produk yang baik secara online. Sebelumnya saya sudah membuat sebuah blog khusus untuk menjual hasil rajutan mama. Namun hanya sekedar membuat blog, saya tidak berhasil mengelolanya. Itu dikarenakan terbatasnya stok yang ada, sehingga calon pembeli harus memesan terlebih dahulu dan menunggu berminggu-minggu. Ini akan mengecewakan calon pembeli. Jadi, untuk website “Sentra Rajutan Tangan” ini, lagi-lagi yang saya inginkan bukan hanya sekedar memasarkan produk yang mama buat melalui internet. Tapi bisa menghimpun lebih banyak produk para penghobi rajutan seperti mama saya.

Mama selalu berpesan kepada saya, kalau saya cinta pada suatu pekerjaan, maka pekerjaan itu akan ringan dan menyenangkan. Begitu pula dengan mama yang saat ini mengisi hari tuanya dengan merajut. Walaupun terkadang mama mengeluh sakit di jarinya, tapi ia tak pernah berhenti dan terus merajut dengan sepenuh hati. Dengan mencintai hobinya tersebut, semua yang sedang dikerjakan memang menjadi ringan dan menyenangkan baginya. I Love My Mom. **

Iklan

14 thoughts on ““Rajutan Cinta” Buatan Mama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s